Minggu, 31 Mei 2009

TERUNTUK GURU-GURUKU

To : Bu Hesti

From : 3 ak

Maafin kami ya bu ..

Walaupun, orang bijak pernah bilang :

“Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali,,

tetapi akan tetap meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya akan tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.”

Kami harap, Ibu bisa memaafkan kami… kejadian yang lalu memang pahit, namun kami harap tidak akan merubah perhatian dan kasih sayang Ibu untuk kami ..

Dan mawar ini, sebagai tanda permintaan maaf dari kami, dan sebagai bukti bahwa kami sangat menyesal…

Bu Hesti,,,, tetep jadi ‘bunda bebek’ seperti dulu ya bu…

To : Bu Isma

From : 3 ak

Maafin kami ya bu..

Ibu Isma itu mama kami,, mama-nya 3 ak.. orang tua kami di Sekolah..

Kami gak mau kalau mama marah sama kami.

Kami tau, Ibu kecewa sama kami, sangat kecewa…

dan kami ingin Ibu tau, sesungguhnya kami pun kecewa dengan sikap kami sendiri,, sungguh kami menyesal..

kami harap, Ibu bisa memaafkan kami… kejadian yang lalu memang begitu mengecewakan Ibu,, namun dibalik itu semua, kami jadi sadar… bahwa semua perilaku kami itu sudah sangat keterlaluan dan begitu menyakitkan hati...

Ibu Isma dan guru-guru yang lain adalah orang tua kami... Dan kami tau, bahwa gak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya..

Ibu gak sia-sia mendidik kami,, tenang aja bu, kami akan berusaha menjadi anak yang berbakti, anak yang tidak mengecewakan orang tuanya…

Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Ibu Isma, sebagai tanda maaf dan bukti bahwa kami benar-benar menyesal…

Ibu Isma,,, masih mau jadi mama-nya 3 ak kan??

To : Pak Surjaman

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak….

Kami punya banyaaaak sekali salah sama bapak…

Pak, kami masih butuh bimbingan dari Bapak,,

Dan kami harap Bapak mau memaafkan semua perilaku dan kesalahan yang telah kami perbuat..

Dan mawar ini, sebagai tanda permintaan maaf dari kami..

To : Ibu Ella

From : 3 ak

Maafin kami ya bu…

Ibu Ella adalah Ibu guru yang baik,, soalnya sering ngasih kami point ketika pelajaran matematika… dengan begitu,, Ibu sudah memacu semangat kami untuk belajar matematika, dan mengubah matematika di mata kami, dari menyeramkan menjadi sesuatu yang menyenangkan… walaupun, masih tetep kepusingan sama rumus-rumusnya..

Kami gak mau, karena kejadian itu, sikap Ibu jadi berubah terhadap kami. Maafin kami ya bu..

Kami sungguh menyesal…

Mungkin, dengan adanya kejadian itu, kami akan menjadi lebih dewasa… dan akan menyadari bahwa Ibu Ella dan guru-guru lain,, sebenarnya begitu menyayangi kami…

Dan mawar ini,,, sebagai permintaan maaf dari kami,, serta bukti bahwa kami sesungguhnya benar-benar menyesal…

To : Ibu Syam

From : 3 ak

Ibuuu,, Maafin kami ….

Sebelumnya maaf, kalau kami lancang dan tidak sopan. Itu karena, kami sejujurnya malu untuk berhadapan langsung dengan Ibu dan guru-guru lain. Kami benar-benar merasa bersalah…

Dan kami sangat menyesal… menyesal dengan kejadian itu… kejadian waktu di trans 7 …

Kami sangat menyadari bahwa sikap dan perilaku kami tidak sesuai dengan etika, tapi sejujurnya,, itu pun bertentangan dengan hati nurani kami..

Kami harap, Ibu bisa memaafkan kami..

Karena,,, kami sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari Ibu.

Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Ibu Syam,, sebagai tanda maaf dari kami, dan bukti bahwa kami benar-benar menyesal..

To : Pak Fairuz

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak…

Memang rasanya tak cukup hanya dengan kata Maaf… Namun, andai Bapak tau,, ingin sekali rasanya kami melakukan sesuatu yang lebih berarti sebagai bukti bahwa kami menyesal.. namun,, lagi-lagi kami pun berfikir bahwa itupun belum cukup untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur membekas..

Pak Fairuz itu inspirasi buat kami.. melihat senyum bapak saja, kami menjadi semangat untuk belajar… oleh karena itu, kami ingin bapak kembali tersenyum untuk kami… gak lagi marah. Walaupun kami sadar, kami sudah mengecewakan bapak.. Tapi, kami akan mencoba menjadi lebih baik…

Kami harap, Bapak bisa memaafkan kami…

Dan mawar ini, adalah sebagai tanda maaf dari kami, dan bukti bahwa kami menyesal…

Pak Fairuz,,, tetep tersenyum dan bimbing kami ya….

To : Ms. Nana

From : 3 ak

Maafin kami ya Miss….

Makasih kemarin udah masuk kelas, dan ngasih banyak pelajaran berharga buat kami…

Miss Nana itu keibuan sekali.. didekat Miss,, kami jadi merasa seperti anak kecil, anak kecil yang ingin selalu dimanja oleh ibunya.. dan kami mengharapkan sikap Miss tidak berubah terhadap kami setelah kejadian itu.. sungguh kami tidak mau kehilangan sosok keibuan seperti Miss…

Kami masih butuh perhatian dari Miss..

Kami harap, Miss Nana bisa memaafkan kami…. Dan kami harap kejadian itu dapat menjadi sebuah pembelajaran buat kami,, dan kami yakin, sesuatu yang buruk adalah suatu awal yang baik untuk ke depannya, insyaallah, amin!

Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Miss Nana,, sebagai tanda maaf dan bukti penyesalan dari kami…

To : Pak Syukur

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak…

Maaf udah bikin kesalahan banyak sama bapak…

Dan makasih, karena bapak begitu sabar menghadapi kami…

Dan mawar ini kami persembahkan untuk Pak Syukur, sebagai permintaan maaf dari kami atas segala tingkah laku yang tidak mengenakan hati…

To : Ibu Ani

From : 3 ak

Maafin kami ya Bu….

Kami tau, sudah banyak ulah yang kami perbuat.. dan kami juga tau itu semua sangat membuat Ibu Ani selaku Kesiswaan begitu kecewa…

Andai Ibu tau, bagaimana perasaan kami sekarang, sungguh kami menyesal

Kelas 3 yang seharusnya menjadi contoh untuk adik-adiknya, malah bikin ulah…

Oleh karena itu, kami ingin mencoba memperbaiki itu semua,, menjadi lebih baik…

Dan karena itu pula, kami butuh bimbingan dari Ibu,, kami harap Ibu masih mau memberi pengarahan untuk kami…

Kami harap pula, Ibu Ani mau memaafkan kami… kejadian yang lalu memang begitu menyakitkan hati, namun ijinkanlah kami membuktikan bahwa kami menyesal atas itu semua…

Kami akan mencoba merubah segala tindakan dan akhlak kami, insyaallah, amin!

Dan mawar ini kami persembahkan untuk Ibu, sebagai tanda maaf dan bukti bahwa kami sangat menyesal…

To : Ibu Edu

From : 3 ak

Maafin kami ya bu….

Ibu Edu, itu Ibu guru yang asik…

Makasih ya bu waktu kelas 2 Ibu udah sabar ngajarin kami…

Dan maaf atas sikap dan perilaku yang udah kami lakukan sama Ibu…

Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Ibu sebagai tanda maaf dari kami…

To : Pak Efendi

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak….

Kami jadi malu dan merasa tidak enak pada bapak…

Kami sering membuat Bapak kecewa sama sikap kami,, dan kami ingin bapak tau, bahwa sebenarnya kami juga tidak menginginkan itu…

Jadi, kami harap bapak mau memaafkan kesalahan yang udah kami perbuat selama ini…

Karena kami masih butuh pengajaran dari bapak….

Dan mawar ini, sebagai tanda maaf dari kami….

Pak Efen,, nanti kan ulangan,, jangan susah-susah ya Pak…

To : Pak Rohim

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak…

Maaf sekali… kami begitu menyadari bahwa sikap kami selama ini sudah kelewatan…

Maaf sekali, kalau kami sudah mengecewakan bapak..

Oleh karena itu, disini kami ingin meminta maaf atas segala kesalahan kami…

Dan kami harap bapak mau memaafkan kami…

Dan mawar ini, sebagai tanda maaf dari kami…..

To : Pak Agus

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak…

Kami udah banyak bertingkah….

Maaf ketika pelajaran bapak, kami sibuk bermain hape,, tapi jujur kami tidak bermaksud untuk tidak menghargai bapak…

Maafin kami ya Pak…

Dan mawar ini, sebagai tanda maaf dari kami untuk Pak Agus….

Hari Jum’at abis semesteran kita jadi ke gor kan pak?

To : Ms. Atikah

From : 3 ak

Maafin kami ya miss…

Miss pernah jadi presiden di provinsi toa-toa…

Jadi kami tau, bahwa kami punya banyak kesalahan sama Miss…

Jadi maafin kami ya Miss….

Miss… kami kangen sama bintang-bintang yang Miss kasih…

Sekarang, gantian! Kami kasih Miss mawar ini…

Sebagai tanda maaf dari kami atas segala sikap yang tidak mengenakan dan cenderung kurang sopan dan sebagai hadiah untuk Miss karena Miss udah baik ngasih kami banyak bintang…

To : Sensei

From : 3 ak

Maafin kami ya Sensei…

Kami punya banyak salah sama Sensei....

Sebenarnya kami malu seperti ini, tapi kami merasa kami mungkin sudah keterlaluan dan bahkan terkadang membuat sensei marah…

Kami sangat butuh bimbingan dari Sensei…

Sensei yang banyak memberikan ilmu untuk kami, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti….

Dan Mawar ini kami persembahkan untuk Sensei yang cantik, sebagai tanda permintaan maaf dari kami atas kesalahan / ulah yang telah kami perbuat…

Sensei,, jangan bosen buat ngajarin dan masuk kelas kami ya Sensei….

To : Pak Tappa

From : 3 ak

Maafin kami ya Pak…

Bapak begitu baik dan sabar…

Terima kasih, karena masih mau menemani kami di metromini…

Sungguh kami sangat sedih ketika mendengar Pak Tappa bercerita…

Kami pun seperti tak percaya, “itukah perbuatan yang kami lakukan?”

Kami sadar, sebenarnya perilaku kami sangat tidak pantas…

Dan kami harap, setelah kejadian itu,, tidak akan mengurangi ataupun merubah kasih sayang yang udah Bapak berikan untuk kami…

Kami pun berharap Pak Tappa bisa memaafkan kami…

Dan mawar ini adalah sebagai tanda permintaan maaf dari kami, dan bukti bahwa sesungguhnya kami menyesal..

Senin, 04 Mei 2009

ANDAIKATA LEBIH PANJANG LAGI

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.Kemudian Rosulullah berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya?"
"saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."
"Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah.
Istri yang setia itu menjawab,"suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya...." hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"
Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.
Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi".Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.


Ucapan lainnya ya Rosulullah?"tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ' kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Danjika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula."(surat Al Isra':7)