Mustahil kalau kamu mengatakan ‘kamu itu pemberani dan tidak mempunyai rasa takut’. Mengapa saya bisa katakan seperti itu? Karena dalam diri seseorang rasa takut itu sudah menjadi satu kesatuan. Ketakutan itu nyata!
Namun, hanya sebagian orang saja yang dapat menghadapinya. Hanya bagi orang-orang yang mempunyai kepercayaan diri.
Dalam pembahasan ini, saya akan membantu teman-teman untuk dapat menghancurkan rasa takut. Sehingga bukan sebagian orang lagi yang dapat menghadapinya namun semua orang.
Berikut contoh-contoh ketakutan yang sering dirasakan oleh kita beserta tindakan yang harus dilakukan:
1. rasa malu karena penampilan pribadi. Yang harus kamu lakukan adalah perbaiki penampilan kamu. Jangan terpaku dengan pakaian yang mahal. Asalkan kamu nyaman menggunakannya, akan timbul kepercayaan diri padamu.
2. takut gagal dalam ujian. Yang harus kamu lakukan adalah ubah kekhawatiranmu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Maksudnya disini adalah, daripada kamu ketakutan dalam menghadapi ujian, lebih baik digunakan untuk belajar, itu akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan.
3. takut akan apa yang mungkin orang lain pikir atau katakan. Maksudnya kamu takut orang lain berpikiran apa yang sudah kamu kerjakan itu jelek. Yang harus kamu lakukan adalah pastikan bahwa kamu mengerjakan segala sesuatu dengan yang sudah direncanakan. Lalu kerjakan. Selalu berpikir positif, karena tak seorangpun pernah mengerjakan apa saja yang berharga tanpa mendapat kritik.
4. takut kepada orang banyak. Yang harus kamu lakukan adalah tempatkan mereka pada perspektif yang semestinya. Ingat, mereka juga manusia biasa. Sama halnya dengan anda. Tunjukkanlah nilai lebih yang ada pada diri anda. Maka mereka akan menghargai anda.
Itulah yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Bagaimana cara menghancurkan rasa takut. Semoga point-point diatas dapat menjadi pedoman untuk kita semua.
Jumat, 27 November 2009
MEMBANGUN KEPERCAYAAN DAN MENGHANCURKAN KETAKUTAN
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
07.04
0
komentar
Kamis, 26 November 2009
KISAH TITIPAN
==================================================================================
Tertanda : Xena
seorang gadis menunduk padaku. wajahnya hampir tenggelam dengan kerudung merah marunnya. entah dia siapa, aku hanya diam dan tak menyapa. dia semakin mendekat, jaraknya tak lagi jauh denganku.. masih dengan menunduk, dia memulai pembicaraannya. sebuah kisah, yang dia anggap sebuah musibah. aku mendengarkan, kemudian selanjutnya aku curahkan pada catatan ini.. diharapkan ada sebuah ataupun dua buah komentar, setidaknya tanggapan yang mampu memecahkan bimbangnya..
==================================================================================
begini kisahnya :
Pertemuan pertama yang menurutku bukan sesuatu yang istimewa, namun kini membawa cerita roman nan indah. Cerita yang sebenarnya tidak layak untuk diceritakan, sebuah kisah yang sebenarnya tidak pantas untuk dikisahkan.
Kulit sawo matangnya sungguh tak menarik penglihatanku. Tinggi standarnya, bukanlah incaranku. Wajahnya pun tidak setampan kekasihku.
Hhh… pertemuan awal dalam sebuah forum. Sebenarnya bukan suatu kesengajaan, bukan suatu yang direncanakan. Alur yang membawa aku untuk bisa bertemu dan untuk pertama kalinya menatap matanya. Kedua mata yang terlihat tajam, dengan alis tebal diatasnya.
Ooh tuhan, bukan inginku, bukan harapku, sungguh ini bukan apa-apa. Mungkin hanya sebuah pelarian saja. Pelarian dari rindu kasih sayang. Pelarian dari sesuatu yang namanya kesepian.
Tak nampak jelas dalam otakku, apakah aku benar-benar menginginkannya. Tak jelas Nampak memang, namun keinginan itu sangat menggairahkan..
ENTAH SEBENARNYA PERASAAN APA YANG SEDANG HINGGAP DALAM DADA INI. CINTAKAH? ATAU
HANYA SEBUAH PELARIAN????
aku dengannya sama-sama tak saling kenal. melihatnya pun aku jarang. namun, setelah pertemuan itu terjadi, semakin banyak hari yang kulewati dengan sosoknya yang terus bersamaku. aku mengira ini adalah sebuah kebetulan saja. namun mengapa, semakin banyaknya waktu berputar, semakin hidupnya dia dalam ruang hatiku..
ooh hitam, panggilan kesayanganku padamu.. sungguh, kau sangat menggoda batinku. ingin selalu menyebut-nyebut namamu.. dalam sadar maupun setengah sadar..
kau bukanlah yang istimewa, namun tanpa sadar, kau buat aku untuk terus mengistimewakanmu.
hitam.. DENGARKAN aku!
aku mohon, hentikan pancaran sinar matamu yang teramat menyihirku,
hentikan suaramu yang begitu menentramkanku,
hentikan senyummu yang mampu membunuhku.. aku mohon,, HENTIKAN..
aku tak ingin terus larut.. tak ingin terus hanyut..
kau tau??
hingga kini, rasa cinta pada kekasihku, sudah kubagi denganmu.
kamu jahat! kamu merebut ruang hati yang sebenarnya hanya kusediakan untuknya..
kau memang belum ungkapkan rasa cintamu pd-ku,
namun aku menangkap begitu cintanya kau terhadapku..
andai aku bisa sejahat kamu, akan aku duakan cinta kekasihku, dengan meneguhkanmu pada hatiku.
andai kekasihku tak begitu mencintaiku, akan ku mantapkan kasihku padamu..
andai.. andai.. dan andai INI TAK TERJADI PADAKU...
=====================================================================================
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
21.11
0
komentar
Minggu, 01 November 2009
TENTANG ♥ VERSI BUNGA DAN KUMBANG
CINTA kalau mau bersemi indah itu perlu proses. bagaikan bunga yang mau MEKAR, banyak rintangan yang harus dihadapi. entah itu CUACA, HEWAN atau yang lainnya ..
sang BUNGA :
“tapi, kalau akhirnya bunga itu gak sanggup untuk terus melawan semua rintangannya gimana? apakah sang kumbang masih setia untuk menuggu CINTA itu akan MEKAR dari sang BUNGA.
sang BUNGA takut kalau KUMBANG berpindah pada BUNGA yang lain. dan ia juga takut kalau waktunya perpisahan antara dirinya dan sang KUMBANG tiba.
sang BUNGA merasa, bahwa dirinya akan mempunyai keberanian untuk melawan segala rintangan apabila sang KUMBANG terus disampingnya hingga waktu MEKAR pun tiba.
tapi, sang BUNGA tidak yakin apakah KUMBANG itu mampu bertahan pada setiap godaan dari BUNGA yang lain, yang akan memisahkan antara keduanya.
sang KUMBANG :
oleh karena itu, jangan pernah sakiti sang KUMBANG, sang KUMBANG tidak ingin berpisah dengan sang BUNGA. karena ia sangat MENCINTAInya ..
sang BUNGA tidak akan mekar tanpa kehadiran sang KUMBANG. namun sang KUMBANG harus pergi meninggalkan sang BUNGA sendirian. meninggalkan senyum MEKAR terindahnya, manis madu CINTAnya, ucapan hangatnya, bau semerbak tubuhnya, dan segala yang dimilikinya.
sang BUNGA tidak tau, bahwa sang KUMBANG tidak benar-benar pergi. ia hanya sebentar meninggalkannya. karena ia tak sanggup melupakan CINTA murni dari sang BUNGA.
Hingga waktu musim semi pun tiba. sang KUMBANG datang dengan kesungguhannya. menjemput sang pujaan hati. kembali ke pangkuannya.
dan ia pun terkesima, betapa cantiknya sang BUNGA miliknya kini MEKAR nan mewah. sang BUNGA terus berjuang agar segera MEKAR, hanya demi sang KUMBANG. ia rela berkorban hanya demi CINTAnya. dia lawan segala hewan-hewan liar yang berusaha mengganggunya. HANYA DEMI CINTA…
CINTA :
♥ itu perlu PENGORBANAN. butuh kesetiaan dan saling percaya satu sama lain. butuh pengabdian, butuh toleransi dan kejujuran!!
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
16.22
0
komentar
SEBUAH HARAPAN ..
YA ALLAH ..
sungguh kuasanya dirimu,
yang mampu menyatukan siang dengan matahari,
menjadikan malam dan bintang sebagai satu kesatuan,
begitu kuasanya dirimu,
hingga kaupun mampu dengan mudahnya mempertemukan hatiku dengan hatinya,
kau menyatukan kami dengan CINTA yang murni yang KAU taburkan.
KAU menjadikan kami sebagai satu kesatuan,
layaknya mentari dengan sinarnya,
pantai dengan pasirnya,
dan selayaknya keong dengan cangkangnya.
sebuah kesatuan yang diikat oleh ikatan tulusnya kasih sayang.
karena-Mu kami bertemu,
oleh-Mu kami menyatu,
dan oleh karena-Mu kami mencinta.
Oh Tuhanku,
jadikanlah selalu kami menjadi hamba-Mu,
yang senantiasa mendapat limpahan kasih sayang dan cinta dari-Mu.
aminn!!
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
16.21
0
komentar
Sabtu, 24 Oktober 2009
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
06.23
0
komentar
PAPER tentang MENYIMAK..
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam kehidupan inilah terjadi interaksi dan komunikasi yang baik dengan alam lingkungan, dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Tak ada yang lebih menjengkelkan daripada merasakan bahwa orang yang dekat dengan kita tidak mau mendengarkan apa yang kita sampaikan (Nichols 1997:5).
Dalam hal ini, alat indera yang paling berperan besar adalah telinga. Telingalah yang mampu mendengar suara apapun, yang nantinya dapat kita kirim ke otak untuk seterusnya disampaikan atau diujarkan melalui alat ucap (mulut).
Kegiatan mendengar ada unsur ketidaksengajaan, kebetulan, sambil lalu, dan tidak dicerna. Oleh karena itu, apa yang didengar mungkin tidak dimengerti sama sekali. Pada peristiwa mendengarkan ada unsur kesengajaan tetapi belum diikuti unsure pemahaman. Dan menyimak dapat dikatakan mencakup mendengar, mendengarkan dan disertai usaha pemahaman.
Menyimak selalu digunakan dalam kehidupan manusia karena manusia selalu dituntut untuk menyimak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam keluarga, manusia selalu dituntut untuk menyimak. Pemerolehan bahasa seorang anak juga berawal dari menyimak ujaran di lingkungan keluarga.
Dalam pergaulan di masyarakat, kegiatan menyimak lebih banyak dilakukan daripada kegiatan berbahasa yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Rivers (dalam Sutari, dkk. 1997 : 8), kebanyakan orang dewasa menggunakan 45% waktunya untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 9% untuk menulis. Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa keterampilan menyimak sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan masyarakat.
Oleh karena itu, kegiatan menyimak sangat penting untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Namun, hingga kini masih ada masyarakat yang belum bisa ataupun belum mengetahui bagaimana cara menyimak yang baik.
1.2. Perumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini kami akan memfokuskan pada beberapa masalah di bawah ini :
1. Tahap-tahap apa saja dalam menyimak
2. Bagaimana proses menyimak
3. Hal-hal apa saja yang perlu disimak
4. Saran praktis apa yang dapat meningkatkan keterampilan menyimak
1.3. Batasan Masalah
Dalam batasan masalah ini, kami akan membatasi masalah tentang ruang lingkup menyimak di kalangan siswa.
1.4. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui tahapan dan proses menyimak yang bagaimana yang harus dipelajari dan dipahami oleh siswa.
2. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu disimak oleh siswa
3. Meningkatkan keterampilan menyimak para siswa
1.5. Sistematika Penulisan
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Batasan Masalah
1.4. Tujuan Penulisan
1.5. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Menyimak
2.2. Tujuan Menyimak
2.3. Jenis-jenis menyimak
2.4. Tahap-tahap Menyimak
2.5. Proses Menyimak
2.6. Hal-hal yang perlu disimak
2.7. Tips menyimak pelajaran dengan baik
2.8. Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Menyimak
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Menyimak adalah proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambing-lambang lisan (Anderson, 1972: 68)
Menyimak adalah mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. (Russel & Russell, 1959;Anderson, 1972: 69).
Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (Panduan & Sastra Indonesia, Natasasmita Hanapi, Drs; 1995: 18).
Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan; 1991: 4).
2.2. Tujuan Menyimak
1. menyimak untuk meyakinkan
2. menyimak untuk belajar
3. menyimak unuk menikmati
4. menyimak untuk menganalisis fakta
5. menyimak unuk mengevaluasi fakta
6. menyimak untuk mengapresiasi
7. menyimak untuk mengomunikasikan ide-ide
8. menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi
9. menyimak untuk memecahkan masalah
10. menyimak untuk inspirasi
11. menyimak untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri
2.3. Jenis-jenis menyimak
Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
a. Sumber suara
b. Cara penyimak bahan yang disimak
c. Tujuan menyimak
d. Taraf aktivitas penyimak
Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
2) Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi
Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruh secara garis besarnya saja.
Menyimak ekstensif meliputi
a) Menyimak sosial
b) Menyimak sekunder
c) Menyimak estetik
2) Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.
Menyimak intensif meliputi:
a) Menyimak kritis
b) Menyimak introgatif
c) Menyimak penyelidikan
d) Menyimak kreatif
e) Menyimak konsentratif
f) Menyimak selektif
2.4. Tahap-Tahap Menyimak
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan menyimak pada para siswa, Ruth G. Strickland menyimpulkan adanya Sembilan tahap menyimak. Yaitu :
1. Menyimak berkala, yang terjadi pada saat-saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya;
2. Menyimak dengan perhatian dangkal karena sering mendpat gangguan dengan adanya selingan-selingan perhatian kepada hal-hal di luar pembicaraan’
3. Setengah menyimak karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hati serta mengutarakan apa yang terpendam dalam hati sang anak;
4. Menyimak serapan karena sang anak keasyikan menyerap atau mengabsorpsi hal-hal yang kurang penting, hal ini merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya;
5. Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang disimak; perhatian secara saksama bergantian dengan keasyikan lain; hanya memperhatikan kata-kata sang pembicar yang menarik hatinya saja;
6. Menyimak asosiatif, hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan yang mengakibatkan sang penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan sang pembicara;
7. Menyimak dengan reaksi berkala terhadap pembicara dengan membuat komentar ataupun mengajukan pertanyaan;
8. Menyimak secara saksama, degan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang pembicara;
9. Menyimak secara aktif untuk mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan sang pembicara (Strickland, 1957: (Dawson [et all], 1963: 154).
Untuk memperluas cakrawala kita mengenai tahap-tahap menyimak ini. Ada pakar lain yang mengemukakan adanya 7 tahapan dalam menyimak.
1. Isolasi : pada tahap ini sang penyimak mencatat aspek-aspek individual kata lisan dan memisahkan atau mengisolasikan bunyi-bunyi, ide-ide, fakta-fakta, organisasi-organisasi khusus.
2. Identifikasi : sekali stimulus tertentu telah dapat dikenal maka suatu makna atau identitas pun diberikan kepada setiap butir yang berdikari itu.
3. Integrasi : kita mengintegrasikan atau menyatupadukan sesuatu yang kita dengan dengan informasi lain yang telah kita simpan dan rekam dalam otak kita.
4. Inspeksi : pada tahap ini, informasi baru yang telah kita terima dikontraskan dan dibandingkan dengan segala informasi yang telah kita miliki mengenai hal tersebut.
5. Interpretasi : pada tahap ini, kita secara aktif mengevaluasi sesuatu yang kita dengar dan menelusuri dari mana datangnya semua itu.
6. Interpolasi : selama tidak ada pesan yang membawa makna dalam dan member informasi, tanggung jawab kitalah untuk menyediakan serta memberikan data-data dan ide-ide penunjang dar latar belakang pengetahuan dan pengalaman kita sendiri untuk mengisi serta memenuhi butir-butir pesan yang kita dengar.
7. Intropeksi : dengan cara merefleksikan dan menguji informasi baru, kita berupaya untuk mempersonalisasikan informasi tersebut dan menerapkannya pada situasi kita sendiri Hunt; 1981: 18-9).
2.5. Proses Menyimak
Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Dalam proses menyimak pun terdapat tahap-tahap, antara lain :
1. Tahap mendengar; dalam tahap ini kita abru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atas pembicaraannya. Jadi, kita masih berada dalam tahap hearing.
2. Tahap memahami; setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang dismpaikan oleh pembicara. Kemudian, sampailah kita dalam tahap understanding.
3. Tahap menginterpretasikan; penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahamu isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu; dengan demikian, sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4. Tahap mengevaluasi; setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara; dengan demikian, sudah sampai pada tahap evaluating.
5. Tahap menanggapi; tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Lalu, penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding). (Logan [et all], 1972: 39; Loban [et all], 1969: 243).
2.6. Hal-hal yang perlu disimak
Khusus mengenai bahasa, lebih-lebih bahasa asing, para pelajar haruslah menyimak serta mengenal dan memahami hal-hal berikut ini (karena sama mengandung makna):
1. Bunyi-bunyi fonemis atau bunyi-bunyi distingsif bahasa yang bersangkutan, dan pada akhirnya variasi-variasi fonem yang bersifat personal atai dialek seprti dipakai atau diucapkan oleh beberapa pembicara asli, penduduk pribumi;
2. Urutan-urutan bunyi beserta pengelompokan-pengelompokannya; panjangnya jeda; pola-pola intonasi;
3. Kata-kata tugas beserta perubahan-perubahan bunyi sesuai dengan posisinya di depan kata-kata lain.
4. Infeksi-infeksi untuk menunjukkan jamak, waktu, milik, dan sebagainya;
5. Perubahan-perubahan bunyi dan pertukaran-pertukaran fingsu yang ditimbulkan oleh derivasi, misalnya adil, keadilan,pengadilan, mengadili, dan diadili dalam bahasa Indonesia;
6. Pengelompokan-pengelompokan structural, misalnya yang berhubungan denga frasa-frasa verbal, preposisional;
7. Petunjuk-petunjuk urutan kata yang menyangkut fungsi dan makna;
8. Makna kata-kata yang bergantung pada konteks atau situasi pembicaraan, misalnya kaki meja, kaki gunung, kaki tangan musuh, tingginya seribu kaki, dan sop kaki;
9. Kata-kata salam, kata-kata sapaan, kata-kata pendahuluan, dan kata-kata keraguan yang terdapat dalam ujaran atau pembicaraan;
10. Makna budaya (cultural meaning) yang terkandung atau tersirat dalam suatu pesan atau ujaran.
2.7. Tips menyimak pelajaran dengan baik
Akan bermanfaat sekali jika Anda dapat menyimak pelajaran dengan baik di kelas. Banyak hal-hal yang perlu Anda pelajari, disampaikan secara lisan oleh guru Anda. Hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru, tidak sama dengan menyimak apa yang disampaikannya.
Menyimak adalah tindakan untuk memahami. Dan untuk itu Anda perlu memperhatikan/mengikuti dengan seksama, memikirkannya, dan secara mental mengolah apa yang didengar. Berikut ini adalah beberapa hal yang pelu dilakukan untuk menjadi penyimak yang baik di kelas.
1. Melakukan persiapan-persiapan. Lakukanlah persiapan untuk memahami apa yang didengar sebelum datang ke kelas. Yakinkanlah diri Anda bahwa PR dan tugas bacaan sudah dikerjakan. Lihat kembali catatan dari pelajaran yang lalu. Pikirkan apa yang Anda ketahui mengenai topik yang akan dicakup di kelas hari ini.
2. Secara emosional siap untuk menyimak. Dalam hal ini sikap Anda penting. Secara sadar pilihlah topik yang penting dan berguna. Lakukanlah segala usaha untuk mempelajariya.
3. Menyimak dengan suatu tujuan. Dapatkanlah apa yang Anda perkirakan atau harapkan akan dipelajari pada sesi di kelas hari ini. Perhatikan hal-hal ini ketika guru Anda berbicara.
4. Menyimak denga pikiran terbuka. Artinya mau menerima apa-apa yang dikatakan oleh guru Anda. Mengajukan pertanyaan atas apa yang disampaikan itu bagus. Tapi hendaknya Anda juga terbuka untuk menerima perbadaan pendapat.
5. Penuh perhatian. Pusatkan perhatian kepada hal-hal yang disampaikan oleh guru Anda. Cobalah untuk tidak melamun atau membiarkan pikirang Anda mngembara ke hal-hal lain. Akan sangat membantu jika Anda duduk di deretan depan bagian tengah. Dengan demikian Anda selalu dapat melakukan kontak mata denga guru.
6. Menjadi pendengar yang aktif. Anda dapat berpikir lebih cepat daripada guru Anda berbicara. Pergunakan keuntungan ini untuk mengevaluasi apa yang sudah dikatakan, dan mengantisipasi apa yang akan dikatakan. Buatlah catatan yang baik mengenai hal-hal yang disampaikan. Tapi Anda tidak dapat menulis lebih cepat daripada guru Anda berbicara. Maka Anda harus memutuskan apa yang akan ditulis, dan untuk melakukannya, Anda perlu menjadi pendengar yang baik.
7. Terimalah tantangan. Janganlah menyerah dan berhenti menyimak jika Anda mendapati bahwa informasi yang disampaikan sulit untuk dicerna. Simaklah dengan lebih seksama dan usahakanlah lebih keras lagi untuk memahaminya. Jangan ragu untuk bertanya.
8. Memenangkan tantangan lingkungan. Ruang kelas mungkin terlalu ribut, terlalu panas atau terlalu dingin, terlalu gelap atau terlalu terang. Jangan meyerah karena ketidak-nyamanan ini. Tetaplah fokus kepada tujuan yang lebih besar BELAJAR.
2.8. Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
Untuk meningkatkan ketrampilan menyimak, ada beberapa saran yang dapat kita manfaatkan. Beberapa di antara saran yang praktis itu di terangkan dalam penjelasan berikut :
1. Bersikaplah secara positif
Kita harus beranggapan bahwa pembicara ialah orang penting dan menarik, orang yang mempunyai banyak pengetahuan dan akan menyajikan bahan-bahan dan gagasan-gagasan yang berguna dan menyenangkan bagi kita.
2. Bertindaklah responsif
Selaku penyimak yang baik, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri keinginan yang dikehendaki atau dituntut oleh sang pembicara kepada diri kita. Pembicara mungkin saja menginginkan kita sebagai wadah, tempat, sasaran yang akan diberi informasi, yang akan diyakinkan atau dihibur.
3. Cegahlah gangguan-gangguan
Agar dapat menjadi penyimak yang baik, memang kita harus dapat menantang serta mencegah anek gangguan atau kendala yang mungkin timbul.
4. Simak dan tangkaplah maksud pembicara
Adakalanya pada permulaan untuk menyampaikan pesannya, pembicara justru mengutarakan atau menyatakan ataupun mengimplikasikan maksud dan tujuan penampilannya.
5. Carilah tanda-tanda apa yang akan datang
Para pembicara yang berpengalaman menyatakan maksud dan tujuan mereka dengan jelas, member penekanan pada butir-butir penting, serta menyajikan prapandangan bagi kerangka pidato atau ujarannya.
6. Carilah rangkuman pembicaraan terdahulu
Di samping menyajikan petunjuk-petunjuk mengenai apa yang akan datang, biasanya para pembicara yang sudah berpengalaman, yang sudah banyak makan garam dalam berbicara, melengkapi pidatonya dengan rangkuman-rangkuman singkat ataupun peringatan-peringatan bagi yang telah diutarakan terdahulu.
7. Nilailah bahan-bahan penunjang
Kalau situasi menuntut kita menyimak kritis, pserti pada persuasi dan memecahkan masalah, simaklah baik-baik secara cermat penjelasan-penjelasan atau keterangan-keterangan logis, contoh-contoh yang relevan, fakta-fakta, dan kesaksian-kesaksian.
8. Carilah petunjuk-petunjuk nonverbal
Gaya, mimik, gerak-gerik, dan gerakan pembicara merupakan bagian vital dari pesannya.
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
06.06
1 komentar
Sabtu, 03 Oktober 2009
HARI ESOK
SesekaLi aku berpikir tentang hari esok.. memang, saat ini semuanya terLihat baik.. semuanya terasa begitu indah.. tapi bagaimana dengan BESOK ?? kaLo LUSA ?? atau Lima buLan seteLah itu ?? dan apakabarnya satu tahun kemudian ?? gak ada yang tau.
Jujur, itulah yang sebenarnya aku takutkan !! takut akan kedatangan hari esok..
Kamu tau ? semakin hari, rasa rindu aku sama kamu semakin besar.
Bahkan apabiLa rindu itu dapat berupa air, mungkin rindu yang
aku rasakan sudah meLuap-Luap..
Tapi aku berpikir, apakah kamu juga merasakan seperti itu ??
Jujur, ada sedikit keraguan daLam hati aku..
Kamu tau kenapa ?? karena mengingat kata-kata yang
pernah kamu bilang sama aku..
“didunia ini semua orang bebas memilih dan mencintai”..
Sungguh ketika kubaca tulisan kamu itu, ketakutan itu
muncuL.. ketakutanku akan kehiLanganmu..
ya mungkin untuk sekarang ini,
kemungkinan itu sangat keciL, tapi bagaimana
dengan besok ?? entah 7 bLn Lagi, 1 tahun ato
tahun2 berikutnya. Lagi2 gak ada Yg tau !!
gak ada yg tau kecuaLi DIA yg menciptakan WAKTU.
Qu bingung apa yg harus aq Lakukan,
agar km sLLu Percaya dan yakin sm aq,
yakin sm cinta aq, yakin Sm perasaan aq..
aq gak tau apkh nantinya Bisa mencintai aq,
syg sm aku ato gak .. Dan sebenarnya itulah
yang sLLu membuat hati aq gusar !!
Aq bener2 takut !!
takut mengetahui tentang hari esok ..
22 : 38
seLasa, 17-02-2009
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
04.02
0
komentar
DUHAI LENTERA-ku
Duhai lenteraku, semakin kita terus berkomunikasi,
berhubungan ataupun saling bicara,
Semakin kita saling bertukar suara, memperdengarkan ataupun mendengarkan,
Rasa rindu aku bukannya hilang, tapi justru semakin bertambah, jadi serba salah.
Sedangkan rasa rindu itu terkadang begitu menyiksa, karena kamu gak ada disini, di dekat aku.
Dan karena aku hanya bisa membayangkan, berkhayal dan bermimpi..
Sedikit lelah memang, namun itulah yang bisa menghibur hati dan pikiranku.
Yaaa.. hiburan seadanya. Paling tidak, bisa sedikit mengusir kesepian yang hinggap dalam ruang hati aku.
Kapan kamu pulang, duhai lenteraku? Gak sabar untuk kembali berbincang, berbagi cerita, dalam canda tawa.
Dan keromantisan yang menghiasi itu semua.
Rindu akan hadirmu, senyummu.
Hhh.. ya tak mengapa.
Setidaknya masih ada beberapa lembar potret dirimu yang masih bisa kupandangi bahkan sesekali aku ciumi.
Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan saat-saat ini, disela-sela penantian aku akan cintaku.
Cintaku yang teramat aku cinta. Aku cinta cintaku. Dan cintaku itu kamu.
Aku cinta kamu cintaku..
Luv u so much.
172507 untukmu firmanku
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
03.54
0
komentar
Sabtu, 19 September 2009
SEJARAH SASTRA INDONESIA
Pengertian, Ruang Lingkup, dan Kedudukan Sejarah Sastra
dalam Lingkup Ilmu Sastra
A. PENGERTIAN SEJARAH SASTRA
Sejarah sastra adalah salah satu bagian dari kajian ilmu sastra. Kata sejarah berasal dari bahasa Arab, sajarun yang berarti pohon. Pohon menggambarkan adanya akar, cabang, dan ranting yang memperlihatkan adanya proses susunan peristiwa secara kronologis.
Sejarah itu sendiri mempunyai arti yang sama, yaitu rekaman perjalanan kehidupan manusia dari masa lampau sampai masa-masa berikutnya.
Karya sastra adalah salah satu bagian dari asset budaya suatu bangsa. Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang tidak hanya memiliki hasil karya sastra bangsanya, tetapi juga menghargai dan memberikan apresiasinya terhadap karya sastra sebagai hasil karya bangsanya itu.
Sejarah sastra Indonesia adalah bagian dari kajian ilmu sastra yang mempelajari kesusastraan Indonesia mulai munculnya kesusastraan Indonesia sampai masa-masa selanjutnya, dengan segala persoalan yang melingkupinya.
Sebagai contoh : Di akhir abad ke-20, terbit novel Saman karya Ayu Utami yang ‘menghebohkan’ dunia sastra Indonesia. Tahun 70-an terbit novel-novel Trilogi Iwan Simantupang, Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969) dan Kering (1970) yang dianggap novel absurd, sarat filsafah, yang sulit dipahami, karena berbeda dengan pola-pola cerita pada novel-novel tahun-tahun sebelumnya. Jauh sebelumnya, pada tahun 40-an terbit novel Belenggu yang dianggap mengusik keindahan sastra dengan ‘menelanjangi’ kehidupan kaum elit yang diwakili oleh keluarga dokter Sukartono. Pada tahun 20-an, lahir novel Sitti Nurbaya yang sangat laris pada masa itu sehingga melampaui kelarisan novel-novel yang lahir sebelumnya seperti Azab dan Sengsara.
B. RUANG LINGKUP PENGKAJIAN SEJARAH SASTRA
Berdasarkan atas objek pengkajiannya, sejarah sastra mempunyai ruang lingkup yang cukup beragam. Keberagaman tersebut sebagai berikut.
1. Dari sudut perkembangan kesusastraan suatu bangsa, terdapat sejarah perkembangan kesusastraan berbagai bangsa di dunia. Seperti : sejarah sastra Indonesia, Jepang, Amerika.
2. Dari sudut perkembangan kesusastraan suatu daerah, ada sejarah sastra daerah. Seperti : Sastra Minangkabau, Sastra Aceh, Batak, dll.
3. Dari sudut perkembangan kebudayaan, ada sejarah sastra pada masa kuatnya kebudayaan tertentu. Seperti : sejarah sastra klasik, sejarah sastra zaman melayu.
4. Dari sudut perkembangan genre, jenis, atau ragam karya sastra. Seperti : sejarah perkembangan puisi, novel, cerpen.
Menurut A. Teeuw, masih banyak yang harus dilakukan oleh para peneliti sejarah sastra Indonesia. Pengkajiannya dapat bertolak belakang dari berbagai sudut yang dapat menggambarkan perkembangan sejarah sastra Indonesia. Berikut cara pengkajiannya.
1. Pengkajian Genetik atau Pengaruh Timbal Balik Antarjenis Karya Sastra
2. Pengkajian Intertekstual Karya Individu
3. Pengkajian Resepsi Sastra oleh Pembaca
4. Penelitian Sastra Lisan
5. Pengkajian Sastra Indonesia dan Sastra Nusantara
C. SEJARAH SASTRA DALAM LINGKUP ILMU SASTRA
Ilmu sastra adalah ilmu yang mempelajari sastra dengan berbagai ruang lingkup dan permasalahannya. Di dalamnya terdapat tiga disiplin ilmu sastra, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Ketiga disiplin ilmu sastra tersebut, saling terkait, tidak dapat dipisahkan.
Teori sastra dan sejarah sastra. Di dalam teori sastra antara lain dikemukakan bahwa karya sastra bersumber dari fenomena kehidupan masyarakat, karenanya karya sastra pada masa tertentu memuat fenomena kehidupan masyarakat pada masa tertentu pula.
Teori sastra dan kritik sastra. Kritik sastra adalah ilmu sastra yang memberikan masukan kepada penulis maupun pembaca mengenai kekuatan, kelemahan, dan keunggulan karya sastra tertentu. Bagi penulis, kritikus sastra berfungsi sebagai pemberi masukan untuk penyempurnaan karya sastra yang dihasilkannya, untuk kesempurnaan karya sastra yang dihasilkannya: Bagi pembaca, kritikus sastra berfungsi sebagai pemberi penjelasan tentang karya sastra tertentu sehingga karya sastra yang tidak dipahami pembaca menjadi sesuatu yang bermakna.
Bagan segitiga berikut dapat menjelaskan hubungan antara sejarah sastra, teori sastra, dan kritik sastra.
Sejarah Sastra
Teori Sastra Kritik Sastra
Ketiga titik yang menghubungkan antarkomponen ilmu sastra merupakan titik yang membangun segi tiga sebagai bangunan ilmu sastra. Artinya, ketiga sisi sastra saling mendukung di dalam pemahaman/ pengkajian ilmu sastra.
Latar Sejarah Bangsa dan
Sastra Indonesia
A. SEJARAH BANGSA INDONESIA YANG MELAHIRKAN RASA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA
Kepulauan Nusantara yang terletak di antara dua benua, yaitu benua Asia, dan Australia serta dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Lautan Teduh dihuni oleh beratus-ratus suku bangsa yang masing-masing mempunyai sejarah, kebudayaan, adat istiadat, dan bahasanya sendiri.
Pada pertengahan abad ke-15 ketenangan hidup yang dialami masyarakat Nusantara tersebut mulai terusik. Karena kedatangan bangsa Eropa. Wilayah Nusantara yang indah, luas, kaya dengan rempah-rempah, bahkan dijuluki zamrud khatulistiwa, menjadi incaran dan ajang perburuan serta perebutan kekuasaan di antara bangsa-bangsa di Eropa. Tujuannya, mencari rempah-rempah. Dimulai dari Portugis, selanjutnya datang pula Inggris. Kemudian datang Belanda menjajah Nusantara pada akhir abad ke-16 (1595) hampir tiga setengah abad (347 tahun) sampai tahun 1942.
Perasaaan senasib sepenanggungan karena merasa dijaja di negeri sendiri menimbulkan sikap perlawanan dari berbagai kerajaan di Nusantara dan menentang penjajahan bangsa Eropa, terutama Belanda. Kondisi perlawanan ini memudahkan Belanda untuk melumpuhkan berbagai kerajaan dengan mengadakan politik pecah belah (devide et impera) dan adu domba. Akibatnya, di antara kerajaan-kerajaan timbul saling curiga, saling bermusuhan. Belanda menerapkan cultur stelsel yaitu tanam paksa dan kerja rodi.
Baru pada awal abad ke-20 Belanda memperlunak politiknya dengan mengemukakan poitik etis, yaitu politik balas budi.
Untuk mengantisipasi meluasnya pengaruh politik etis bagi masyarakat yang tidak memahami tujuan Belanda yang sebenarnya, mereka menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dengan cara memperjuangkan pemakaian bahasa melayu di sekolah-sekolah Belanda dan juga lembaga-lembaga pemerintahan.
Di luar kalangan pemerintahan, pemakaian bahasa melayu semakin gencar digunakan terutama dengan terbitnya surat-surat akbar dan majalah berbahasa Melayu.
B. BAHASA MELAYU DAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PERSATUAN
Bahasa Melayu yang disepakati sebagai bahasa persatuan dalam mengobarkan semangat perjuangan bangsa oleh para pemuda pejuang bangsa dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang kelak bahasa ini menjadi bahasa Nasional, mempunyai sejarah yang cukup panjang. Bahasa ini telah dikenal mulai abad ke-6 (680 M), karena terdapat di berbagai prasasti di wilayah Palembang sekarang ini.
Bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa persatuan di Nusantara telah jauh berbeda dengan bahasa melayu yang berkembang di Johor sebagai pusat pemakaian bahasa Melayu Riau sebelumnya.
Dengan pengikraran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928 berarti sejak tanggal itu, otomatis istilah bahasa Melayu ebrubah menjadi bahas Indonesia, sebagai bahasa yang digunakan bangsa Nusantara.
C. SASTRA MELAYU DAN SASTRA NUSANTARA
Kesusastraan Melayu adalah kesusastraan yang menggunakan bahasa Melayu. Pusat kerajaan Melayu yang semula berada di Palembang , berpindah ke Malaka yang didirikan pada tahun 1400 M. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Raja Malaka Sultan Mahmud, pindah ke Bintan. Pada masa ini, banyak cerita (karya sastra) yang semula dalam bentuk lisan, dituliskan oleh para pujangga mejadi sastra tulisan atas perintah raja. Contoh : Sejarah Melayu, Hikayat si Miskin, Hikayat Malim Dewa, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Ken Tambuhan, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk.
Lambat laun pusat penulisan sastra Melayu beralih ke Batavia dengan didirikannya Balai Pustaka oleh pemerintah Hindia Belanda. Karya-karya sastra yang dihasilkan oleh penulis Balai Pustaka suda bebeda dengan karya-karya sastra pada masa Melayu Klasik.
Di luar penerbit Balai Pustaka pun terbit banyak karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Karya-karya ini banyak digemari oleh masyarakat seperti para pedagang, para buruh, dan sebagainya. Semua karya tersebut itu adalah karya sastra Melayu Modern di Nusantara.
Sastra Nusantara adalah sastra daerah Nusantara. Sebagaimana halnya dengan sastra Melayu, setiap daerah Nusantara memiliki kesusastraannya pula yang merupakan asset budaya daerah. Misalnya : di Jawa, kesusastraaan Jawa merupakan kesusastraan yang tertua. Demikian juga halnya dengan sastra Sunda yang juga cukup kaya khasanahnya.
Dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat dalam bidang kesusastraan, yaitu masuknya cerita-cerita dalam bentuk novel, sonata, esai, maka kesusastraan daerah pun mengikuti perkembangan penulisan karya sastra. Maka dikenalah adanya, sastra Jawa Baru, sastra Sunda Modern, dan lain-lain.
Sastra Indonesia adalah sastra yang menggunakan bahasa Indonesia. Semenjak diikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di Nusantara, istilah yang digunakan untuk kelanjutan dari sastra Melayu klasik adalah Sastra Indonesia Modern.
Demikian juga dengan bentuk puisi. Bentuk puisi lama yang bentuknya tetap dan rimanya beraturan, berkembang menjadi bentuk puisi modern pengaruh dari Eropa, sperti bentuk soneta dari Italia. Para pujangga yang menulis puisi soneta adalah Moh. Yamin, Sanusi Pane, Moh. Hatta, Rustam Effendi.
Modul 2
Masa Kelahiran Kesusastraan
Indonesia dan Pembabakannya
Masa Lahirnya Kesusastraan Indonesia
Pandangan para ahli sangat bervariasi. Ada yang melihatnya dari sudut bahasa yang digunakan, ada yang melihatnya dari sudut isi karya yang mengemukakan semangat kebangsaan, dan ada pula yang melihatnya dari sudut keberadaan suatu bangsa sebagai sebuah Negara, dan ada juga yang melihatnya dari sudut para pengarangnya yang orang-orang pribumi. Berikut pandangan mereka tentang penentuan masa kelahiran kesusastraan Indonesia.
A. UMAR YUNUS
Umar Yunus mengemukakan bahwa kata kesusastraan Indonesia mengandung makna krya sastra yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana penulisannya.
Jika pemakaian bahasa Indonesia sebagai dasar nama kesusastraan Indonesia, maka adanya kesusastraan Indonesia tentunya setelah adanya bahasa Indonesia. Bila adanya bahasa Indonesia? Bukankah secara umum bangsa Indonesia sebelumnya menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan mereka?
Dari sejarah Indonesia diketahui bahwa kata bahasa Indonesia baru dicanangkan namanya secara resmi pada tanggal 28 Oktober 1928, ketika dikumandangkan Sumpah Pemuda oleh para cendekiawan bangsa yang tehimpun dari berbagai suku bangsa di Nusantara.
B. AJIP ROSIDI
Ajip Rosidi juga mengemukakan bahwa sebuah karya sastra tidak akan mungkin hadir tanpa bahasa sebagai medianya. Tetapi bahasa itu hidup dalam perjalanan panjang yang tidak mungkin berhenti pada suatu masa dan bahasa itu dilanjutkan oleh bahasa berikutnya.
C. TEEUW
Sama halnya dengan pendapat Ajip Rosidi, A. Teeuw melihat awal tumbuhnya kesusastraan Indonesia pada masa mulai timbulnya rasa kebangsaan pada puisi-puisi pemuda Indonesia. Mereka, para pemuda yang pada masa itu dilrang menulis yang berhubungan dengan masalah politik, mencari bentuk lain yaitu menulis puisi yang sangat berarti bagi awal tumbuhnya kesusastraan Indonesia.
D. SLAMET MULYANA
Slamet Mulyana melihat kelahiran kesusastraan Indonesia daru sudut makna kesusastraan yang dimiliki sebuah Negara. Kesusastraan Indonesia adalah kesusastraan yang dimiliki Negara Indonesia sebagaimana Negara lain yang juga memiliki kesusastraannya.
E. PENGAMAT LAINNYA
Beberapa pengamat lainnya tentang lahirnya kesusastraan Indonesia, mengemukakan bahwa lahirnya kesusastraan Indonesia pada waktu terbitnya novel Azab dan Sengsara (1917), Salah Asuhan (1918), serta Sitti Nurbaya (1922) oleh Balai Pustaka pada tahun 20-an.
Masalah Angkatan, Generasi, dan
Periodisasi Sastra Indonesia
A. BEBERAPA PANDANGAN
Istilah angkatan, periode, dan generasi, sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk perkembangan kesusastraan Indonesia merupakan masalah yang pernah dibincangkan oleh para ahli sastra.
Masalah penamaan angkatan, periode, dan generasi di dalam kesusastraan Indonesia sudah terdapat sejak Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawannya dari lingkungan Pujangga Baru memaklumatkan tentang kehadirannya sebagai pujangga yang berbeda dengan pujangga lama.
Dalam menentukan identitas mereka sebagai Pujangga Baru, mereka menggunakan istilah generasi. Istilah generasi lama mereka gunakan untuk para pujangga lama, dan istilah generasi baru digunakan untuk para pujangga baru.
Istilah angkatan sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk tahap perkembangan kesusastraan Indonesia.
B. BERBAGAI PEMBABAKAN SASTRA INDONESIA
Berdasarkan berbagai pandangan tentang bila dimulainya kesusastraan Indonesia, maka terdapat berbagai variasi istilah (penamaan) pembabakan sejarah sastra Indonesia yang dikemukakan para peneliti/penulis sejarah sastra Indonesia di dalam buku-buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Para peneliti/penulis dengan penamaan perkembangan kesusastraan Indonesia tersebut, sebagai berikut.
1. Ajip Rosidi
Ajip Rosidi membagi kesusastraan Indonesia atas dua masa perkembangan, yaitu :
a. Masa Kelahiran Sastra Indonesia, antara tahun 1900-1945
b. Masa Perkembangan Sastra Indonesia, mulai 1945 – sekarang
2. Nugroho Notosusanto
Nogroho Notosusanto membagi perkembangan sejarah sastra Indonesia atas dua bagian, yaitu :
a. Kesusastraan Melayu Lama
b. Kesusastraan Indonesia Modern
3. H.B. Jassin
H.B. Jassin membagai pembabakan sejarah kesusastraan Indonesia atas dua bagian, yaitu :
a. Kesusastraan Melayu
b. Kesusastraan Indonesia Modern
4. Zuber Usman
Zuber Usman membagi kesusastraan Indonesia atas tiga bagian, yaitu ;
a. Masa kesusastraan Melayu Lama
b. Masa Kesusastraan Peralihan
c. Masa Kesusastraan Baru
5. Basaria Simorangkir Simanjuntak
Basaria Simorangkir Simanjuntak membagi sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia atas :
a. Kesusastraan Masa Purba (sebelum kedatangan agama Hindu)
b. Kesusastraan Masa Hindu, Arab (Kesusastraan masa pengaruh Hindu sampai kedatangan agama Islam)
c. Kesusastraan Masa Islam
d. Kesusastraan Masa Baru
6. J. S. Badudu
J. S. Badudu membagi sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia atas dua bagian :
a. kesusastraan Melayu
b. kesusastraan Indonesia
7. Sabarudin Ahmad
Sabarudin Ahmad membagi sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia atas dua masa juga, yaitu :
a. Masa Kesusastraan Lama
b. Masa Kesusastraan baru
Istilah yang dikemukakan para ahli sejarah sastra dalam penentuan waktu perkembangan kesusastraan bervariasi, yaitu periode, masa, dan angkatan.
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
06.24
1 komentar
Kamis, 16 Juli 2009
SUKSES. SUKSES. SUKSES
Bete banget!!
Ya allah, apa yang akan engkau berikan kepada diriku? Kejutan apa? Kenapa perjalanan untuk mencapai itu terasa begitu berat???
Ada yang salah denganku? Ya allah, niat aku begitu tulus.. hanya ingin membahagiakan mereka. Sungguh aku tak ingin membentuk bahkan melukiskan gurat kesedihan di wajah mereka, orang tuaku sendiri. Daku sungguh tak tega melihatnya.
Mereka nampaknya begitu kecewa… dan aku lihat wajah murung mereka ketika mereka memergoki aku menangis..
Mereka mengira aku begitu sedih.. namun, sesungguhnya aku tidak sesedih yang mereka bayangkan. Bagiku, itu semua hanya masalah waktu. Waktulah nanti yang akan menentukan kapan aku bisa berhasil. Itupun harus dibarengi dengan usaha dan doa..
Tapi sebenarnya, yang membuat aku menangis saat ini adalah, karena aku malu pada diriku sendiri. Aku malu ya allah..
Aku malu, karena tidak bisa membuat mereka tersenyum bangga.
Allah,, Rab-ku,
Apa lagi yang harus aku lakukan? Ingin sekali melihat mereka meneteskan air mata kebahagiaan,, bukan kesedihan.. bantu aku..
Allah-ku yang maha menentukan,,
Aku yakin atas semua ketentuanmu. sampai engkau tidak mengijinkan ataupun meridhoi hamba untuk bisa menginjakkan kaki di tempat itu.
Padahal, engkau tau bahwa tempat itu yang begitu aku harapkan. Karena aku pikir, disitulah masa depan akan bisa kuraih.
Namun, aku yakin, semua yang sudah engkau putuskan, itulah yang terbaik untuk aku dan keluargaku.
Ya allah, Tuhan-ku, aku mohon.. bimbinglah aku dalam beribadah kepadamu. Salah satunya dengan ini. MENUNTUT ILMU. Jangan biarkan semangat ini pudar ya allah..
Harapan terakhirku tahun ini hanya satu.. dan engkau tau itu..
Jika engkau masih memberi kepercayaan kepadaku,ridhoilah aku ya allah untuk bisa meraih cita-citaku, disanaaaa…… dan engkau tau itu..
Namun bila tidak, bimbinglah aku untuk bisa mencapai yang terbaik dari yang paling baik.
Berikanlah pengganti yang baik. Yang benar-benar pas dengan aku, cocok untuk meningkatkan akhlakku, dan budi pekertiku..
Suatu tempat yang bisa menjadi perantara bagiku untuk bisa membahagiakan mereka. Ingin sekali melihat ayah dan mama tersenyum bangga dan menangis bahagia.. izinkanlah aku, ridhoilah aku.
Mungkin usaha dan doaku belum cukup bagimu. Oleh karena itu, bimbinglah aku. Jangan biarkan aku jatuh pada lembah keputusasaan. AKU INGIN SUKSES… YA ALLAH!!
RIDHOILAH HAMBA UNTUK BISA SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT, AMIN!!
(By : xena janitra lathifah. 17 JULI 2009) ungkapan hati.
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
20.11
0
komentar
Label: MASA DEPAN..
Minggu, 31 Mei 2009
TERUNTUK GURU-GURUKU
To : Bu Hesti
From : 3 ak
Maafin kami ya bu ..
Walaupun, orang bijak pernah bilang :
“Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali,,
tetapi akan tetap meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya akan tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.”
Kami harap, Ibu bisa memaafkan kami… kejadian yang lalu memang pahit, namun kami harap tidak akan merubah perhatian dan kasih sayang Ibu untuk kami ..
Dan mawar ini, sebagai tanda permintaan maaf dari kami, dan sebagai bukti bahwa kami sangat menyesal…
Bu Hesti,,,, tetep jadi ‘bunda bebek’ seperti dulu ya bu…
To : Bu Isma
From : 3 ak
Maafin kami ya bu..
Ibu Isma itu mama kami,, mama-nya 3 ak.. orang tua kami di Sekolah..
Kami gak mau kalau mama marah sama kami.
Kami tau, Ibu kecewa sama kami, sangat kecewa…
dan kami ingin Ibu tau, sesungguhnya kami pun kecewa dengan sikap kami sendiri,, sungguh kami menyesal..
kami harap, Ibu bisa memaafkan kami… kejadian yang lalu memang begitu mengecewakan Ibu,, namun dibalik itu semua, kami jadi sadar… bahwa semua perilaku kami itu sudah sangat keterlaluan dan begitu menyakitkan hati...
Ibu Isma dan guru-guru yang lain adalah orang tua kami... Dan kami tau, bahwa gak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya..
Ibu gak sia-sia mendidik kami,, tenang aja bu, kami akan berusaha menjadi anak yang berbakti, anak yang tidak mengecewakan orang tuanya…
Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Ibu Isma, sebagai tanda maaf dan bukti bahwa kami benar-benar menyesal…
Ibu Isma,,, masih mau jadi mama-nya 3 ak
To : Pak Surjaman
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak….
Kami punya banyaaaak sekali salah sama bapak…
Pak, kami masih butuh bimbingan dari Bapak,,
Dan kami harap Bapak mau memaafkan semua perilaku dan kesalahan yang telah kami perbuat..
Dan mawar ini, sebagai tanda permintaan maaf dari kami..
To : Ibu Ella
From : 3 ak
Maafin kami ya bu…
Ibu Ella adalah Ibu guru yang baik,, soalnya sering ngasih kami point ketika pelajaran matematika… dengan begitu,, Ibu sudah memacu semangat kami untuk belajar matematika, dan mengubah matematika di mata kami, dari menyeramkan menjadi sesuatu yang menyenangkan… walaupun, masih tetep kepusingan sama rumus-rumusnya..
Kami gak mau, karena kejadian itu, sikap Ibu jadi berubah terhadap kami. Maafin kami ya bu..
Kami sungguh menyesal…
Mungkin, dengan adanya kejadian itu, kami akan menjadi lebih dewasa… dan akan menyadari bahwa Ibu Ella dan guru-guru lain,, sebenarnya begitu menyayangi kami…
Dan mawar ini,,, sebagai permintaan maaf dari kami,, serta bukti bahwa kami sesungguhnya benar-benar menyesal…
To : Ibu Syam
From : 3 ak
Ibuuu,, Maafin kami ….
Sebelumnya maaf, kalau kami lancang dan tidak sopan. Itu karena, kami sejujurnya malu untuk berhadapan langsung dengan Ibu dan guru-guru lain. Kami benar-benar merasa bersalah…
Dan kami sangat menyesal… menyesal dengan kejadian itu… kejadian waktu di trans 7 …
Kami sangat menyadari bahwa sikap dan perilaku kami tidak sesuai dengan etika, tapi sejujurnya,, itu pun bertentangan dengan hati nurani kami..
Kami harap, Ibu bisa memaafkan kami..
Karena,,, kami sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari Ibu.
Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Ibu Syam,, sebagai tanda maaf dari kami, dan bukti bahwa kami benar-benar menyesal..
To : Pak Fairuz
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak…
Memang rasanya tak cukup hanya dengan kata Maaf… Namun, andai Bapak tau,, ingin sekali rasanya kami melakukan sesuatu yang lebih berarti sebagai bukti bahwa kami menyesal.. namun,, lagi-lagi kami pun berfikir bahwa itupun belum cukup untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur membekas..
Pak Fairuz itu inspirasi buat kami.. melihat senyum bapak saja, kami menjadi semangat untuk belajar… oleh karena itu, kami ingin bapak kembali tersenyum untuk kami… gak lagi marah. Walaupun kami sadar, kami sudah mengecewakan bapak.. Tapi, kami akan mencoba menjadi lebih baik…
Kami harap, Bapak bisa memaafkan kami…
Dan mawar ini, adalah sebagai tanda maaf dari kami, dan bukti bahwa kami menyesal…
Pak Fairuz,,, tetep tersenyum dan bimbing kami ya….
To : Ms. Nana
From : 3 ak
Maafin kami ya Miss….
Makasih kemarin udah masuk kelas, dan ngasih banyak pelajaran berharga buat kami…
Miss Nana itu keibuan sekali.. didekat Miss,, kami jadi merasa seperti anak kecil, anak kecil yang ingin selalu dimanja oleh ibunya.. dan kami mengharapkan sikap Miss tidak berubah terhadap kami setelah kejadian itu.. sungguh kami tidak mau kehilangan sosok keibuan seperti Miss…
Kami masih butuh perhatian dari Miss..
Kami harap, Miss Nana bisa memaafkan kami…. Dan kami harap kejadian itu dapat menjadi sebuah pembelajaran buat kami,, dan kami yakin, sesuatu yang buruk adalah suatu awal yang baik untuk ke depannya, insyaallah, amin!
Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Miss Nana,, sebagai tanda maaf dan bukti penyesalan dari kami…
To : Pak Syukur
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak…
Maaf udah bikin kesalahan banyak sama bapak…
Dan makasih, karena bapak begitu sabar menghadapi kami…
Dan mawar ini kami persembahkan untuk Pak Syukur, sebagai permintaan maaf dari kami atas segala tingkah laku yang tidak mengenakan hati…
To : Ibu Ani
From : 3 ak
Maafin kami ya Bu….
Kami tau, sudah banyak ulah yang kami perbuat.. dan kami juga tau itu semua sangat membuat Ibu Ani selaku Kesiswaan begitu kecewa…
Andai Ibu tau, bagaimana perasaan kami sekarang, sungguh kami menyesal…
Kelas 3 yang seharusnya menjadi contoh untuk adik-adiknya, malah bikin ulah…
Oleh karena itu, kami ingin mencoba memperbaiki itu semua,, menjadi lebih baik…
Dan karena itu pula, kami butuh bimbingan dari Ibu,, kami harap Ibu masih mau memberi pengarahan untuk kami…
Kami harap pula, Ibu Ani mau memaafkan kami… kejadian yang lalu memang begitu menyakitkan hati, namun ijinkanlah kami membuktikan bahwa kami menyesal atas itu semua…
Kami akan mencoba merubah segala tindakan dan akhlak kami, insyaallah, amin!
Dan mawar ini kami persembahkan untuk Ibu, sebagai tanda maaf dan bukti bahwa kami sangat menyesal…
To : Ibu Edu
From : 3 ak
Maafin kami ya bu….
Ibu Edu, itu Ibu guru yang asik…
Makasih ya bu waktu kelas 2 Ibu udah sabar ngajarin kami…
Dan maaf atas sikap dan perilaku yang udah kami lakukan sama Ibu…
Dan mawar ini, kami persembahkan untuk Ibu sebagai tanda maaf dari kami…
To : Pak Efendi
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak….
Kami jadi malu dan merasa tidak enak pada bapak…
Kami sering membuat Bapak kecewa sama sikap kami,, dan kami ingin bapak tau, bahwa sebenarnya kami juga tidak menginginkan itu…
Jadi, kami harap bapak mau memaafkan kesalahan yang udah kami perbuat selama ini…
Karena kami masih butuh pengajaran dari bapak….
Dan mawar ini, sebagai tanda maaf dari kami….
Pak Efen,, nanti
To : Pak Rohim
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak…
Maaf sekali… kami begitu menyadari bahwa sikap kami selama ini sudah kelewatan…
Maaf sekali, kalau kami sudah mengecewakan bapak..
Oleh karena itu, disini kami ingin meminta maaf atas segala kesalahan kami…
Dan kami harap bapak mau memaafkan kami…
Dan mawar ini, sebagai tanda maaf dari kami…..
To : Pak Agus
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak…
Kami udah banyak bertingkah….
Maaf ketika pelajaran bapak, kami sibuk bermain hape,, tapi jujur kami tidak bermaksud untuk tidak menghargai bapak…
Maafin kami ya Pak…
Dan mawar ini, sebagai tanda maaf dari kami untuk Pak Agus….
Hari Jum’at abis semesteran kita jadi ke gor
To : Ms. Atikah
From : 3 ak
Maafin kami ya miss…
Miss pernah jadi presiden di provinsi toa-toa…
Jadi kami tau, bahwa kami punya banyak kesalahan sama Miss…
Jadi maafin kami ya Miss….
Miss… kami kangen sama bintang-bintang yang Miss kasih…
Sekarang, gantian! Kami kasih Miss mawar ini…
Sebagai tanda maaf dari kami atas segala sikap yang tidak mengenakan dan cenderung kurang sopan dan sebagai hadiah untuk Miss karena Miss udah baik ngasih kami banyak bintang…
To : Sensei
From : 3 ak
Maafin kami ya Sensei…
Kami punya banyak salah sama Sensei....
Sebenarnya kami malu seperti ini, tapi kami merasa kami mungkin sudah keterlaluan dan bahkan terkadang membuat sensei marah…
Kami sangat butuh bimbingan dari Sensei…
Sensei yang banyak memberikan ilmu untuk kami, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti….
Dan Mawar ini kami persembahkan untuk Sensei yang cantik, sebagai tanda permintaan maaf dari kami atas kesalahan / ulah yang telah kami perbuat…
Sensei,, jangan bosen buat ngajarin dan masuk kelas kami ya Sensei….
To : Pak Tappa
From : 3 ak
Maafin kami ya Pak…
Bapak begitu baik dan sabar…
Terima kasih, karena masih mau menemani kami di metromini…
Sungguh kami sangat sedih ketika mendengar Pak Tappa bercerita…
Kami pun seperti tak percaya, “itukah perbuatan yang kami lakukan?”
Kami sadar, sebenarnya perilaku kami sangat tidak pantas…
Dan kami harap, setelah kejadian itu,, tidak akan mengurangi ataupun merubah kasih sayang yang udah Bapak berikan untuk kami…
Kami pun berharap Pak Tappa bisa memaafkan kami…
Dan mawar ini adalah sebagai tanda permintaan maaf dari kami, dan bukti bahwa sesungguhnya kami menyesal..
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
05.54
1 komentar
Senin, 04 Mei 2009
ANDAIKATA LEBIH PANJANG LAGI
Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.Kemudian Rosulullah berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"
"Apa yang di katakannya?"
"saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."
"Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah.
Istri yang setia itu menjawab,"suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya...." hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"
Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.
Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi".Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.
Ucapan lainnya ya Rosulullah?"tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ' kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Danjika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula."(surat Al Isra':7)
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
05.03
0
komentar
Kamis, 02 April 2009
KISAH POHON APEL
( HARUS DIBACA, KEREN BANGED NII . )
Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut.
Masa berlalu... anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu." Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau," jawab remaja itu." Aku mau membeli permainan. Aku perlukan uang untuk membelinya," tambah remaja itu dengan nada yang sedih.Lalu pohon apel itu berkata, "
Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan."
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. Masa berlalu...Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.
Pohon apel itu merasa gembira."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu."Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkah kau menolongku?" Tanya anak itu."
Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kaubuatlah rumah daripadanya." Pohon apel itu memberikan cadangan. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu." Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai kapal. Bolehkah kau menolongku?" Tanya lelaki itu."
Aku tidak mempunyai kapal untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan kapal. Kau akan dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu.Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apelitu."
Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat kapal. Aku hanya ada tunggul dengan aka ryang hampir mati..." kata pohon apel itu dengan nada pilu."
Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu karena aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua itu."
Jika begitu, istirahatlah di perduku," kata pohon apel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.
Tersebut. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua ibu bapa kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka.Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup.Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.
Diposting oleh
Xena Janitra Firmansyah
di
05.58
0
komentar


