Katanya nih, cinta bikin apa yg dicintai itu bener-bener masuk ke lubuk hati. Bicara lubuk hati, apalagi yg terdalam, pasti berkaitan banget ama yg namanya kelembutan. Hati tuh lembuuuttt banget. Kalo dah kayak gini nich, cinta itu deket ama yang namanya air mata, nangis dech... Makanya, orang yg lagi jatuh cinta, bakal gampang nangis kalo inget ama yg dicintainye, ya kagak? Ngaku dech!
Ngomong-ngomong soal nangis nich, A'a BOY punya cerita. Cerita ini cerita jadul. Ada 2 cerita.
Cerita pertama. Dulu, ada negeri kafir yg mo nyerang negeri Islam. Ketua kafir itu atur siasat. Sebelum nyerang, diselidiki dulu negeri Islam itu. So, si ketua ngutus seorang mata-mata ke negeri Islam itu. Si mata-mata tadi nyamar jadi orang Islam. Trus dia masuk ke negeri Islam itu. Tampangnya pokoke Islam banget dah, pake janggut segala kali! Tiba-tiba dia ngeliat ada seorang anak muda yg lagi nangis di pojokan dinding. Penasaran, si mata-mata tadi ngedeketin tuh anak muda. Trus dia nanya : " Kenapa kamu nangis?" Jawab anak muda tadi : "Aku nangis karena tadi aku ketinggalan shalat berjama'ah di masjid." Kagetlah si mata-mata. Trus dia balik ke negerinya dan laporan ke ketua. Dia nyeritain apa yg diliatnya di negeri Islam. Trus kata ketua : "OK, kita jangan nyerang Islam dulu. Tunggu kalo saatnya dah tepat."
Cerita kedua. Sebetulnya ini lanjutan dari cerita pertama tadi. Beberapa tahun kemudian, diutus lagi dech mata-mata. Then, si mata-mata nyamar jadi orang Islam. Pokoknya kayak cerita pertama. Trus dia ngeliat ada anak muda yg nangis lagi duduk. Si mata-mata ngedatengin tuh anak trus nanya : "Kenapa kamu nangis?" Jawab si anak muda : " Aku nangis karena baru aja ditinggal ama kekasihku?" Ngedenger jawaban kayak gini, si mata-mata balik ke negerinya. Dia lapor ke ketua tentang apa yg diliatnya di negeri Islam. Trus, sang ketua berkata : "OK, saatnya kita serang mereka!"
Bener, negeri kafir kemudian nyerang negeri Islam tadi . Dan apa yg terjadi, soddara-soddara? Maka, hancur-lebur dan luluh-lantaklah negeri Islam itu. Masya Allah...
Kenapa hayo koq bisa kayak gitu? Ketua kafir tadi ngeliat kalo yg pertama, pemuda-pemuda Islam-nya sholeh-sholeh. Mereka cinta benget ama Allah.
Sampe-sampe mereka sedih & nangis gara-gara ketinggalan shalat berjama'ah di masjid. So, kalo negeri kafir nyerang saat itu, pasti orang kafir kalah.
Trus, setelah beberapa tahun, ada yg berubah di negeri Islam itu. Anak-anak mudanya dah ga sholeh lagi (atw mungkin kurang sholeh kali ya...). Ini bisa diliat ada anak muda Islam yg nangis gara-gara ditinggal pacarnya. Pasti, hari-harinya dihabisin bwt kekasihnya, bwt nemenin, bwt mikirin, en bwt-bwt yg laen. Knapa waktunya kagak dihabisin bwt Allah & Islam yak? Ini pertanda kalo negeri Islam tadi dah lemah. Ini dia saatnya buat nyerang.
Gitu, Pren. Generasi yg pertama nangis ngeluarin air mata (ya iyalah, masak ngeluarin ingus) gara-gara cinta ama Allah. Generasi yg kedua nangis ngeluarin air mata (air mata buaya bukan ya?) gara-gara cinta ama pacarnya.
Nah, Pren, air mata kita termasuk yg mana nich? Kalo kita nangis gara-gara siapa hayo?? Yg jelas bukan gara-gara A'a BOY! Hwehehe.. Moga2 air mata & nangis kita hanya karena Allah! (a2i)
TAHUKAH KAMU?
KECEPATAN CAHAYA
"...Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." [Q.S. Al Hajj : 47]
Satu hari seperti 1000 tahun. Dgn menggunakan hitungan ini, kita dapat merumuskan bahwa rumus kecepatan cahaya itu c=3x100.000. Al Quran keren kan?
Laila Majnun karya Nizami adalah karya sastra yang menceritakan tentang kisah cinta yang berakhir tragis. Tragis di sini kalau dipandang dari sudut pandang keduniawian. Tapi kalau kita memandangnya dengan kacamata batin, akhir dari cerita ini bisa kita katakan sebagai “happy ending” karena adanya penyatuan antara sang pencinta dan kekasihnya di alam yang tak terjamah.
Di buku ini, diceritakan dari awal perkenalan seorang pemuda, putera seorang pemimpin kabilah Bani Amir, Qais, dengan seorang gadis cantik bernama Laila, anak seorang pemuka kabilah yang lain. Mereka bertemu di sebuah sekolah, model kisah cinta yang akan ada sepanjang zaman…
Dan sepanjang cerita ini, dikisahkan bagaimana kisah cinta mereka begitu penuh dengan halangan dan ketidaksetujuan dari berbagai pihak. Bagaimana sebagian besar orang begitu mengharamkan pertemuan kedua insan yang memang saling mencintai bukan hanya dengan cara yang biasa, tapi mereka saling mencintai dengan kedalaman yang tak terkira.
Bagaimana Qais, yang akhirnya dijuluki “Majnun” yang artinya gila, karena dia bertingkah seperti orang gila dalam usahanya mendapatkan Laila, berusaha mendapat Laila dengan berbagai cara, dan selalu gagal. Dan diceritakan juga nasib Laila yang memang terlahir sebagai perempuan di suatu zaman yang begitu penuh diskriminasi sehingga tidak ada kesempatan untuk memilih dan lebih dihargai apabila menerima takdir dari orang lain.
Kisah cinta mereka terus berjalan dan tidak pernah pudar, walaupun akhirnya Laila dinikahkan dengan Ibnu Salam, lelaki bukan pilihan Laila. Laila sama sekali tidak mau disentuh oleh suaminya sendiri karena cintanya terdampar di tempat yang tidak semestinya. Dan Ibnu Salam pun bukan seorang laki-laki yang suka mementingkan dirinya sendiri. Karena besarnya cinta pada Laila, ia rela tidak menyentuh istrinya sendiri itu walaupun dalam pernikahan yang sah, karena dia tahu hari Laila tidak bisa ia dapatkan.
Dengan adanya kisah cinta ini, banyak korban-korban yang berjatuhan, dalam arti korban-korban yang turut menderita melihat kedua insan yang tengah mempertahankan cinta mereka. Orang tua Qais dan Laila, Ibnu Salam, teman-teman Qais dan Laila, yang harus menyerahkan apapun termasuk nyawa mereka untuk ikut menanggung sebagian dari penderitaan.
Dan pada akhir cerita, Laila yang wafat lebih dulu dikuburkan dengan layak, sedangkan Qais yang akhirnya mati seperti orang terlelap di pusara Laila, dijaga oleh teman-temannya hewan-hewan gurun. Dan pada akhirnya mereka bersatu juga, dalam dunia yang tidak terjangkau oleh siapa pun…
Ending :
Hanya dalam kematian, mereka diizinkan untuk bersanding...
"Sepasang kekasih terbaring dalam kesunyian,
Disandingkan di dalam rahim gelap kematian,
Sejati dalam cinta, setia dalam penantian,
Satu hati, satu jiwa, di dalam surga keabadian."
Legenda Cinta Layla-Majnun
Judul: Laila-Madjnoen (Tjeritera di Tanah Arab); Laila Majnun Karya Nizami; Layla Majnun, Roman Cinta Paling Populer & Abadi
Penulis: Hamka (Hadji Abdul Malik Karim Amrullah
Penerbit: Balai Poestaka, 1932; Ilman Books, 2002; Navila, 2002
Tebal: 74 halaman; 222 halaman; 200 halaman
Kalau ada kisah cinta abadi antara seorang perempuan dan laki-laki yang menjadi legenda di dunia Timur, itulah legenda Layla dan Majnun. Kisah ini begitu melegenda sehingga muncul banyak versi menyangkut lika-liku hubungan cinta Layla dan Majnun.
Ada anggapan bahwa kisah cinta Layla-Majnun ini hampir-hampir menyerupai cerita Romeo and Juliet karya sastrawan Inggris, William Shakespeare, terutama dalam hal tragedi yang menyelubungi hubungan cinta sepasang kekasih. Meski demikian, cerita Romeo and Juliet adalah salah satu karya yang ditulis oleh tangan William Shakespeare pada abad ke-16. Sementara itu, Layla dan Majnun merupakan sebuah cerita yang dikisahkan dari mulut ke mulut dan baru pada abad ke-12 dituliskan oleh seorang penyair dari Azerbaijan, Nizami Ganjavi, dalam bentuk syair. Versi Nizami inilah yang kemudian merupakan cerita yang paling populer.
<>
Menurut Jean-Pierre Guinhut, seorang orientalis dan ahli mengenai kebudayaan dan filsafat Timur yang juga pernah menjadi Duta Besar Perancis untuk Azerbaijan, pengaruh cerita Layla-Majnun ini melampaui tradisi Timur. Jika melihat kembali ke masa Abad Pertengahan, yaitu sekitar abad ke-11-13, banyak dari karya sastra Barat saat itu memiliki jejak sastra oriental yang kemudian memengaruhi karya-karya sastra seperti cerita kepahlawanan Jerman abad ke-13 berjudul Tristan und Isolde yang ditulis oleh Gottfried von Strassburg atau dongeng Perancis, Aucassin et Nicolette.
Sampai saat ini, kisah Layla-Majnun merupakan cerita yang paling populer di Timur Tengah maupun Asia Tengah, di antara bangsa-bangsa Arab, Turki, Persia, Afgan, Tajiks, Kurdi, India, Pakistan, dan Azerbaijan. Kepopuleran kisah ini memberi inspirasi banyak seniman, baik pelukis, pemusik, maupun pembuat film, menciptakan beragam karya seni yang menggambarkan kisah-kasih Layla dan Majnun.
Di dalam buku terbitan Balai Poestaka ini dikisahkan tentang Qais dan Layla yang hidup di negeri Nedjd, salah satu wilayah di tanah Arab. Mereka adalah sepasang remaja yang sejak kecil sering bermain bersama dan ketika menginjak remaja pergi belajar di sekolah yang sama. Qais berwajah tampan, sementara Layla adalah gadis rupawan yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Keduanya saling jatuh cinta, namun adat melarang mereka mengekspresikan gelora cinta secara terbuka. Maka, perasaan keduanya hanya ditumpahkan dalam bentuk syair ketika mereka mempunyai kesempatan bertatap muka secara diam-diam.
Suatu ketika Qais memutuskan untuk ikut bersama ayahnya, Al-Mulawwah, berniaga ke negeri lain agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Maka, pamitlah ia kepada Layla dan memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais meminta Layla untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Meskipun sangat sedih, Layla merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.
Sepeninggal Qais, Layla hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Layla, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sa’d bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Layla, Sa’d bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Layla kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Layla, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sa’d bin Munif. Layla tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan.
Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Layla. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus. Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Layla. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Layla untuk Qais.
Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Layla dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sa’d bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Layla menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Layla dan Sa’d bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.
Akan halnya Layla, meskipun kini telah menjadi istri Sa’d bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Layla, secara fisik ia boleh menjadi istri Sa’d bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Layla bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Layla sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Layla. Ketika mereka bertemu, Layla memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Layla hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Layla.
Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Layla-Majnun.
Tujuh puluh tahun setelah penerbitan buku ini oleh Balai Poestaka, pada tahun 2002 kisah ini dibukukan kembali oleh dua penerbit, Ilman Books dan Navila, masing-masing dengan judul Laila Majnun dan Layla Majnun, Roman Cinta Paling Populer & Abadi. Di dalam kedua buku itu disebutkan bahwa kisah yang ditulis merupakan saduran karya Nizami dari buku berbahasa Arab dengan judul Qays bin al Mulawah, Majnun Layla dan versi bahasa Inggris berjudul Laili and Majnun: A Poem serta Layla and Majnun By Nizami.
Meskipun ketiga buku tersebut sama mengungkap tragedi kisah cinta Layla dan Majnun, tetapi terdapat beberapa perbedaan menyangkut detail cerita. Pertama, di dalam buku terbitan Balai Poestaka disebutkan bahwa Qais adalah anak saudagar bernama Al-Mulawwah, yang sering bepergian ke negeri-negeri lain untuk berniaga. Sementara di dalam dua buku yang terbit tahun 2002 hanya disebutkan bahwa Qais adalah anak semata wayang seorang saudagar bernama Syed Omri atau Sayid. Ayah Qais dikabarkan telah lama menanti kehadiran anak semata wayangnya untuk meneruskan garis keturunan keluarga.
Perbedaan kedua, di buku Balai Poestaka, suami Layla dikabarkan pergi dari negeri Nedjd setelah kematian Layla. Sementara di buku terbitan 2002, suami Layla, Ibnu Salam, meninggal lebih dahulu dibandingkan dengan Layla. Beberapa perbedaan ini disebabkan, pertama, banyaknya penyair ataupun sastrawan yang menuliskan kisah Layla-Majnun. Kedua, lebih banyak lagi penulis yang menyadur kisah Layla-Majnun berdasarkan syair yang ditulis para penyair atau sastrawan tadi.
Kepopuleran kisah Layla-Majnun ini membuat dua buku terbitan tahun 2002 itu mengalami cetak ulang beberapa kali. Bahkan, buku terbitan Navila menjadi buku paling laris dengan mencetak rekor memasuki cetakan ke-18 pada bulan Mei 2004. Sementara buku terbitan Ilman Books telah masuk periode cetakan ke-6 pada tahun 2004 ini.
Kemasyhuran kisah Layla-Majnun ini juga telah memberi inspirasi kepada sutradara kondang Indonesia, almarhum Sjumandjaja, untuk membuat cerita bagi layar lebar. Maka, tahun 1975, dibuatlah film berjudul Laila Majenun dengan bintang utama Rini S Bono sebagai Laila dan Ahmad Albar sebagai Majenun. Film ini pun mengantongi penghargaan untuk kategori Aktor Pembantu Terbaik bagi almarhum Farouk Afero pada Festival Film Indonesia 1976.
]
| Cinta Agung hanya dari Allah S.W.T. Cinta lain kepada suami, isteri, anak-anak, ibu dan bapa, kepandaian, Kejelitaan, pangkat dan harta benda hanya bersifat sementara. Boleh Hilang dalam sekelip mata. Yang kekal hanya Allah S.W.T. | |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
| | |
|
| |
Do'a dikala ragu akan dirinya...:)
Bagi yang sedang bimbang oleh sang kekasih, nih ada do'a yang bagus untuk diamalkan. Selamat Mengamalkan ya....:)
Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya
Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....
Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh
Amin... Ya Rabbal 'Alamin
Puisi 41
Sebuah Puisi Akhi Masrawi
Sebening Cinta Kota Cairo
Aku berkenalan dengan Cairo
Sebermula permukiman di dadanya
Cairo menyambutku melazimi rutinnya
Dipukul butir-butir debu nan tersapa
Cairo mengajarku bercinta
dengan watak-watak mayanya
Melakarkan metafora cinta bersama
tanpa aku mengenali sedalamnya
hanya berselindungan cuma
Aku dan Cairo mula berkenalan
Cairo ibarat taman larangan
Menyembunyikan seribu rahsia persoalan
Aku hanya mengandaikan demikian
Kala menjejak Ramsis dari Abas Akad
Aku mula menelaah Cairo
Aku ditemukan dengan kesesakan
Perubahan peradaban dan segala macam
Belum lagi membelok ke Tahrir
Singgah di Husin dan berjalan ke Atabah
Santak tersesat hingga ke Misril Jadidah
Yang bakal menemukan
zuruf dan uruf yang membezakan
antara Aku dan Cairo
antara hak dan kebatilan
di sebalik maslahah dan kebenaran
Aku terkilan sudi singgah
di laman cinta Cairo
Yang menipu pandangan zahirku
Dalam menilai Kota Cairo
Sejak itu Cairo tidak pernah menemukan lagi aku
walau aku pernah meminta ditemukan
Cairo tidak betah selalu menjemput aku sebagai tamu
walau aku pernah mempelawakan diriku
Cairo tidak sangsi untuk membuang aku
Jauh dari halaman rutin hidupnya
Namun Cairo tidak rakus melahapku sebegitu
Entah...Hanya Cairo yang tahu sebabnya
Aku terasa bersalah menafikan
Cinta Cairo terhadapku sebagai tamunya
Akhirnya Cairo menemukan aku segalanya
Dari belikat tubuh yang masih sengal
Getar tabah yang bergelora dipersenda
Menjadi saksi dan bukti nyata
Tika mengejar bas dan menyalak kesesakan
Sambil berlari menyeret episod-episod cabaran
Kecekalan, ketabahan, kesabaran, perjuangan,
pengorbanan, keikhlasan dan segalanya
yang tidak ditemui seumpamanya
Sumber watak cinta Cairo yang terpasak
Menyemat ampuh di sanubari hatinya
Bukan cuma ilusi dan igauan
medan yang pernah mengajarkan
Cinta dan seribu kelainan
Terima kasih kerana beri aku peluang
Walau sukar sukmaku nyatakan
Sebening cinta Kota Cairo
Nukilan,
Akhi Masrawi.
Khalfal Masakin
Tanta.
Puisi 42
Bonda
Bonda
dalam pelukanmu
aku menangis
kerana kemiskinan kita
menjadi bahan senda
Dan kuih-muih
yang kujaja
terbuang di tangan
orang yang menuduh
keluarga kita
perosak damai kampung
aku pelik
tangis ini tidak akan menitis
dari anak lelakimu
andai mereka tidak berkata
aku anak tidak 'berbapa'
nukilan,
akhi masrawi
(ilham dari pembacaan cerpen Jabat nukilan Ralan Kazan- dalam buku Persediaan menulis Cerpen oleh: Dr. Othman Puteh)
Puisi 43
Semalam Dia Berpesan
Semalam dia berpesan
tentang kebenaran
sebuah perjuangan
Semalam dia berpesan
tentang kejayaan
sebuah pengorbanan
Semalam dia berpesan
tentang keadilan
sebuah pentadbiran
Semalam dia berpesan
tentang kezaliman
sebuah pemerintahan
Semalam dia berpesan
tentang kesetiaan
sebuah percintaan
Semalam dia berpesan
tentang cita-cita
yang semakin pudar
Semalam dia berpesan lagi
tentang segalanya
sebelum pergi selamanya
Nukilan
Akhi Masrawi
Mei 2002
Puisi 44
Rintihan
Rintihan hati ini
hanya difahami
jiwa yang mengerti
kerana sebening impian
yang pernah dilakarkan
semakin pudar warnanya
sedang ilusi cinta
yang diseret pilu
semakin resah
membisik lembut
salirat kasih
yang kian tercicir
Nukilan,
Akhi Masrawi
Mei 2002
Puisi 45
Kenal
Bolehkah aku kenal
seorang wanita
tentang diri
juga hati budi
malah cinta
dan keikhlasan
hanya dalam tempoh
enam purnama?
Nukilan,
Akhi Masrawi
Mei02
Puisi 46
Anggap
Pernahkah
kau anggap
diriku ini
sebagai pendamping
yang memahami
layar laluan
malah kehidupan
seorang pejuang
Nukilan
Akhi Masrawi
Puisi 47
Mencari identiti
Aku seorang insan
dikatakan tanpa perasaan
Aku seorang insan
dituduh ego dan angkuh dengan diri
Aku seorang insan
semakin hanyut dalam lamunan
Aku seorang insan
kini tersungkur diseret impian
Aku seorang insan
yang masih mencari identiti diri
Nukilan,
Akhi Masrawi.
Puisi 48
Puteri MIRC
Puteri MIRC
kepingin amat
mencari sahabat
dalam dunia senyap
Puteri MIRC
cantik sekali
menyusun kata-kata
dalam dailog bisunya
Puteri MIRC
sering kali jatuh cinta
pada sang putera
yang petah menyusun kata
Puteri MIRC
akhirnya sedar jua
cinta yang terjumpa
selalunya dusta
Nukilan
Akhi masrawi
02/Mei
Puisi 49
Kesan
Kesan itu
semakin hilang
dimamah zaman
dan kian lenyap
dari kotak ingatan
seorang sejarahwan
yang pernah mengkaji
tetapi tidak
bagi perajurit
yang pernah menempuh
sebuah perjuangan
di medan itu
kerana kesan itu
adalah nostalgia semalam
biar pudar
ditelan zaman
namun tidak
di kotak ingatan
insan berdarah satria
seperti seorang pejuang
Nukilan
Akhi Masrawi
5/02
Puisi 50
Cinta Hakiki
Hanya satu cinta
yang paling agung
dari semua
cinta yang ada
kerana sukar mendapatnya
tidak terjual di mana-mana
tetapi hanya boleh dipungut
dalam ubudiah terhadapNya
setelah mengikat ihsan
dan keikhlasan
akan ditemui cinta hakiki
cinta Ilahi

2 komentar:
Wah, banyaknya puisi akhi amsrawi yang diterbitkan di sini. Buat pengetauanmu, sayalah akhi masrawi...mahu berhubung sila emelkan kepada saya: akhimizi80@yahoo.com
Soalnya saya hendak tanya, dari mana awak mengenali Akhi Masrawi?
Posting Komentar